Praktik pengelolaan sampah hingga pembuatan ecoenzyme
Rangkaian HPS ke-46 juga memberikan ruang bagi peserta untuk mempelajari pengelolaan lingkungan melalui praktik langsung.
Yusuf Surahmin memandu praktik pembuatan asap cair melalui proses pirolisis bahan organik. Materi ini menjadi pengenalan terhadap teknologi pengolahan bahan organik yang penerapannya harus memperhatikan prosedur keselamatan dan tujuan penggunaan.
Peserta juga mendapatkan edukasi mengenai pembuatan lubang biopori, pengolahan sampah organik menjadi ecoenzyme, pembuatan sabun berbahan ecoenzyme, serta pengenceran cairan tersebut untuk keperluan penyemprotan di sekitar lokasi kegiatan.
“Melalui kegiatan praktik, peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan secara teoritis, tetapi juga kesempatan untuk mengenal proses pengolahan dan pemanfaatan bahan organik secara langsung,” ujarnya.
Berbagai praktik tersebut memperlihatkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat dimulai dari rumah dan komunitas, seperti mengelola sampah organik, meningkatkan resapan air, serta mengurangi penggunaan kemasan yang berpotensi menambah pencemaran.
Meski demikian, penggunaan asap cair dan ecoenzyme perlu disesuaikan dengan tujuan, konsentrasi, serta prosedur yang tepat. Ecoenzyme juga tidak dapat dianggap sebagai pengganti otomatis disinfektan atau bahan pengendali pencemaran yang telah teruji.
Bank Sampah Dagadu buktikan gerakan minim sampah
Salah satu aspek yang menonjol dalam penyelenggaraan HPS ke-46 adalah penerapan prinsip minim sampah selama kegiatan berlangsung.
Penggiat Bank Sampah Dagadu Tegal Rejo, Cicilia Eny Sulistyandari, menjelaskan bahwa panitia dan peserta berupaya menerapkan langsung pesan-pesan lingkungan yang disampaikan selama seminar.
Peserta diwajibkan membawa botol minum atau tumbler pribadi. Panitia menyediakan fasilitas isi ulang air minum, kopi, dan teh untuk mengurangi penggunaan kemasan sekali pakai.
Penyajian makanan ringan juga diupayakan tanpa kotak atau kemasan mika. Peserta mengambil makanan menggunakan piring yang disediakan, sedangkan makanan utama disajikan secara prasmanan.
“Intinya, apa yang diajarkan selama kegiatan juga kami praktikkan langsung. Peserta membawa tumbler, makanan disajikan tanpa kotak sekali pakai, dan kami berupaya mengurangi sampah yang dihasilkan selama acara,” tuturnya.
Bank Sampah Dagadu turut membuka stan dan melibatkan timnya dalam membantu pelaksanaan kegiatan serta mendukung narasumber. Tim tersebut juga melakukan penyemprotan cairan ecoenzyme di sekitar lokasi bersama pihak tuan rumah.
Bagi Cicilia, keterlibatan komunitas lingkungan dalam kegiatan ini merupakan bentuk dukungan terhadap perubahan perilaku masyarakat agar semakin bertanggung jawab terhadap sampah yang dihasilkan.
“Pesan kepedulian lingkungan tidak cukup disampaikan melalui seminar atau slogan. Pelaksanaannya juga perlu terlihat dalam cara masyarakat mengonsumsi makanan, menggunakan kemasan, mengelola sampah, dan menjaga kebersihan lingkungan,” ujarnya.
Penerapan kebiasaan tersebut menjadi contoh bahwa gerakan lingkungan tidak selalu harus dimulai melalui kegiatan besar. Perubahan cara menggunakan kemasan, menyajikan makanan, dan mengelola sampah dapat menjadi langkah awal yang diterapkan secara konsisten.
Pameran beras organik dorong apresiasi terhadap petani
Aspek kedaulatan pangan turut diperkuat melalui pameran beras organik yang diperkenalkan Mikirno bersama timnya. Produk beras yang dipamerkan disebut telah memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI).
Pameran ini memberikan kesempatan kepada peserta untuk mengenal produk pangan yang dihasilkan melalui pendekatan pertanian organik sekaligus memahami hubungan antara cara budidaya, kualitas hasil panen, kesehatan lingkungan, dan keberlanjutan produksi pangan.
“Melalui pengenalan produk lokal dan beras organik, peserta diajak melihat bahwa petani mempunyai peran penting dalam menjaga ketersediaan pangan bagi masyarakat. Dukungan terhadap produk lokal juga berpotensi memperkuat ekonomi petani dan rantai distribusi pangan di tingkat daerah,” ucapnya.
Pangan yang berkelanjutan tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan bahan makanan, tetapi juga menyangkut kualitas, keamanan, keterjangkauan, dan keberlanjutan proses produksinya.
Pameran tersebut sekaligus mengingatkan pentingnya mendukung petani lokal yang berperan langsung dalam memenuhi kebutuhan pangan masyarakat. Adapun klaim pemenuhan SNI pada produk tetap perlu merujuk pada standar dan dokumen yang sesuai dengan jenis produk tersebut.
Misa syukur teguhkan tanggung jawab merawat bumi
Rangkaian peringatan HPS ke-46 ditutup dengan Misa Syukur yang dipimpin Romo Joko Santoso, selaku Ketua Dekanat Belitang, dan Romo Laurentius Rakidi, selaku Ketua Komisi PSE Keuskupan Agung Palembang, bersama sejumlah romo lainnya. Perayaan berlangsung dengan iringan musik gamelan.
Dalam rangkaian perayaan tersebut, Romo Joko Santoso menekankan pentingnya mensyukuri pangan sekaligus menyadari tanggung jawab manusia dalam menjaga sumber kehidupan.
“Misa syukur menjadi bagian penting dari peringatan tersebut, sebagai ungkapan rasa syukur atas pangan yang dipandang sebagai anugerah sekaligus pengingat akan tanggung jawab manusia dalam mengelolanya,” ucap Romo Joko Santoso.
Pangan bukan sekadar kebutuhan sehari-hari, melainkan bagian dari kehidupan yang bergantung pada tanah, air, keanekaragaman hayati, serta kerja keras petani dan pelaku pangan lokal.
Karena itu, rasa syukur perlu diwujudkan melalui tindakan nyata, seperti tidak membuang makanan, menghargai hasil kerja petani, mendukung produk pangan lokal, dan menjaga kelestarian lingkungan.
Melalui peringatan HPS ke-46 di Mojosari, Gereja Katolik dan masyarakat diajak memperkuat kerja sama dalam menjaga ketersediaan pangan, mendukung pertanian ramah lingkungan, serta membangun kebiasaan minim sampah.
Keterlibatan Gereja, pemerintah desa, aparat, sekolah, petani, komunitas lingkungan, dan masyarakat menjadi bagian penting dalam mewujudkan perubahan tersebut.
Dari pengembangan pertanian berbasis mikroba hingga kebiasaan membawa tumbler dan mengurangi kemasan sekali pakai, kegiatan ini menegaskan bahwa upaya merawat bumi sebagai rumah bersama dapat dimulai dari tindakan sederhana yang dilakukan secara konsisten. (Red)













