BeritaPedia.news, OKU TIMUR – Kepedulian terhadap pangan dan kelestarian lingkungan menjadi pesan utama dalam peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS) ke-46 tahun 2026 yang diselenggarakan di Gereja Santa Maria Asumpta, Mojosari, Kecamatan Belitang, Kabupaten OKU Timur, pada 10–11 Oktober 2026.
Mengusung tema “Mendengarkan Suara Bumi dan Isinya”, kegiatan yang diselenggarakan Keuskupan Agung Palembang melalui Dekanat Belitang tersebut mengajak umat Katolik dan masyarakat untuk membangun sistem pangan yang lebih adil, sehat, serta berkelanjutan.
Peringatan ini tidak hanya diisi seminar, tetapi juga edukasi pertanian ramah lingkungan, praktik pengolahan sampah organik, pembuatan pupuk hayati, pengenalan lubang biopori, hingga pameran beras organik yang disebut telah memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI).
Sebanyak 200 peserta mengikuti seminar dan kegiatan edukasi. Mereka berasal dari paroki, stasi, sekolah Katolik, kelompok kategorial di wilayah Dekanat Belitang, serta masyarakat Desa Mojosari. Sementara itu, puncak perayaan HPS dijadwalkan melibatkan sekitar 1.000 peserta.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Kepala Desa Mojosari, Hj. Meilian Yohana, dan unsur Polsek Belitang. Sejumlah narasumber serta penggiat lingkungan berbagi pengetahuan mengenai pentingnya menjaga keseimbangan alam sekaligus memperkuat kemandirian pangan masyarakat.
Merawat bumi sekaligus memperjuangkan keadilan pangan
Ketua Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) Keuskupan Agung Palembang, Romo Laurentius Rakidi, menegaskan bahwa kepedulian terhadap lingkungan harus diwujudkan melalui tindakan nyata, bukan sekadar menjadi pesan dalam perayaan keagamaan.
Menurutnya, persoalan pangan berkaitan erat dengan keadilan sosial, pemberdayaan ekonomi, dan kelestarian lingkungan. Karena itu, Komisi PSE mendorong berbagai gerakan yang dapat membantu masyarakat membangun solidaritas sekaligus meningkatkan kemandirian.
“Komisi PSE memiliki peran mengoordinasikan gerakan HPS karena isu pangan berkaitan erat dengan keadilan sosial, pemberdayaan ekonomi masyarakat, dan kelestarian lingkungan,” katanya.
Ia menjelaskan, Komisi PSE menjalankan tiga pilar utama, yakni Aksi Puasa Pembangunan (APP), Hari Pangan Sedunia (HPS), serta Lembaga Keuangan Mikro (LKM) atau Credit Union.
Ketiga pilar tersebut memiliki peran berbeda, mulai dari menumbuhkan solidaritas melalui aksi sosial, mendorong kedaulatan pangan dan kepedulian ekologis, hingga mendukung kemandirian ekonomi masyarakat.
Dalam konteks tema HPS tahun ini, Romo Laurentius mengajak umat untuk memahami bahwa kerusakan lingkungan juga berdampak pada kehidupan kelompok masyarakat kecil, terutama petani dan nelayan yang menggantungkan hidup pada sumber daya alam.
“Suara bumi yang menderita akibat krisis lingkungan tidak dapat dipisahkan dari suara kaum kecil yang mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya,” ujarnya.
Semangat tersebut sejalan dengan ensiklik Laudato Si’ yang mengajak manusia merawat bumi sebagai rumah bersama serta memperhatikan hubungan antara krisis lingkungan dan penderitaan masyarakat miskin.
Romo Laurentius juga mendorong perubahan pola hidup dan praktik pertanian agar lebih memperhatikan keberlanjutan alam. Langkah yang dapat dilakukan antara lain menggunakan kompos, menerapkan pola tanam bergilir, mengurangi plastik sekali pakai, mencegah pemborosan makanan, dan melakukan penghijauan.
“Gereja dan lembaga pendidikan juga memiliki tanggung jawab untuk mendampingi masyarakat melalui pendidikan dan pengembangan keterampilan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” bebernya.
Ia turut mengajak umat menghargai hasil kerja petani dan nelayan, membeli produk lokal, memperjuangkan harga yang layak, serta mengembangkan lumbung pangan di tingkat paroki.
Dengan demikian, peringatan HPS diharapkan berkembang menjadi gerakan berkelanjutan yang mendukung ketersediaan pangan sekaligus memperjuangkan kesejahteraan masyarakat.
Pertanian organik dan pupuk hayati menjadi alternatif
Pesan kepedulian terhadap bumi juga diwujudkan melalui materi pertanian ramah lingkungan yang disampaikan Paulus Sumarno.
Dalam pemaparannya, ia menyoroti tantangan pertanian intensif yang terlalu bergantung pada bahan kimia. Penggunaan input pertanian secara berlebihan dan tidak tepat dapat meningkatkan biaya produksi, menurunkan kualitas tanah, serta menimbulkan risiko pencemaran lingkungan.
Sebagai alternatif, peserta diperkenalkan pada pemanfaatan pupuk dan agen hayati berbasis mikroba untuk membantu memperbaiki kondisi tanah, mendukung penyediaan unsur hara, serta membantu pengelolaan organisme pengganggu tanaman.
“Sebagai salah satu alternatif, peserta diperkenalkan pada pemanfaatan pupuk dan agen hayati berbasis mikroba. Pendekatan ini diarahkan untuk memperbaiki kondisi tanah, membantu penyediaan unsur hara, serta mendukung pengendalian organisme pengganggu tanaman dengan cara yang lebih ramah lingkungan,” paparnya.
Salah satu materi yang diperkenalkan adalah pembuatan pupuk Nitro Bacter menggunakan bahan berupa gula putih, urea, kotoran ayam yang telah lapuk, tanah dari bawah kotoran hewan, asam humat, dan air.
Berdasarkan materi pelatihan, bahan-bahan tersebut dicampur sesuai takaran dan difermentasi dalam drum berkapasitas 200 liter selama sekitar satu bulan, disertai pengadukan setiap minggu. Peserta juga memperoleh penjelasan mengenai pengenceran sebelum diaplikasikan.
Selain itu, diperkenalkan pupuk pembenah tanah berbasis Plant Growth-Promoting Rhizobacteria (PGPR), yakni kelompok bakteri yang dapat membantu pertumbuhan tanaman melalui berbagai mekanisme biologis.
“Melalui edukasi ini, peserta diharapkan memperoleh pengetahuan mengenai alternatif pengelolaan tanah yang lebih berkelanjutan, sekaligus memahami pentingnya menyesuaikan penggunaan pupuk hayati dengan kondisi lahan, jenis tanaman, serta petunjuk teknis yang tepat,” ucapnya.
Edukasi tersebut diharapkan memperluas wawasan peserta mengenai pengelolaan lahan yang lebih berkelanjutan. Penggunaan pupuk hayati tetap perlu memperhatikan kualitas bahan, keamanan proses pembuatan, dan kesesuaian penerapannya dengan kebutuhan tanaman.
Lanjut di halaman 2













