Oleh: Afrijal, M.Pd.
Selepas magrib, kala langit mulai gelap dan suara azan sudah reda, tidak sengaja mendengar berita dilayar kaca Presiden Prabowo menaikkan gaji hakim hingga 280 persen. Konon, agar mereka tak mudah tergoda oleh amplop-amplop berisi godaan, agar keadilan tetap tegak dan hukum tidak jatuh tersungkur. Sebuah niat yang tak keliru, namun terasa sepotong. Sebab bila ingin mencegah api, jangan hanya sibuk mencari alat pemadam. Lihat juga dari mana percikan pertama berasal.
Sebelum seseorang bersumpah atas nama konstitusi, sebelum ia mengenakan jubah hitam dan mengetukkan palu ke meja hijau, ia pernah duduk dikursi kecil di dalam ruang kelas mungil Taman Kanak-Kanak (TK). Di sanalah pertama kali ia belajar bahwa mengambil barang milik orang lain itu salah, bahwa menunggu giliran itu perlu, bahwa tidak semua keinginan bisa dipaksakan. Pelajaran moral paling dasar tidak diajarkan di ruang sidang, tapi di ruang kelas yang penuh gambar, nyanyian, dan pelukan hangat guru TK/PAUD.
James Heckman, peraih Nobel Ekonomi, pernah mengingatkan dengan jelas: pendidikan anak usia dini bukan sekadar pijakan awal, melainkan fondasi utama seluruh bangunan kehidupan manusia. Mengabaikannya sama saja membangun rumah bertingkat di atas pondasi yang rapuh. Maka jika hari ini kita merindukan bangsa yang bersih dari korupsi, mengapa justru melupakan tempat di mana nilai-nilai kejujuran pertama kali ditanamkan?
Ironi itu semakin terasa ketika para guru TK dan PAUD harus bertahan hidup dengan upah yang bahkan tak mampu membeli mainan edukatif bagi muridnya. Di sisi lain, hakim diberi lonjakan gaji sebagai pagar dari rayuan suap. Padahal, pagar paling kuat adalah karakter yang ditempa sejak dini. Apa gunanya menaikkan gaji hakim bila kita membiarkan anak-anak tumbuh tanpa mengenal arti adil sejak kecil? Jika ingin sungai bersih di hilir, maka hulunya harus dijaga. Bukan sekadar dibendung, tapi dipelihara sejak mata airnya.
Negara ini seperti rumah besar. Jika fondasinya rapuh, tiang-tiang keadilan tak akan cukup menahan beban zaman. Guru-guru TK dan PAUD adalah tukang batu yang membentuk pondasi itu. Namun selama ini, mereka hanya disapa saat ada lomba mewarnai, bukan saat negara menyusun anggaran. Padahal merekalah yang pertama kali menanam benih antikorupsi, jauh sebelum jaksa bicara pasal dan hakim mengetuk palu.
Menaikkan gaji hakim boleh jadi langkah penting. Tapi jangan hanya memperkuat tembok sementara pondasinya keropos. Bangsa yang besar bukan yang hanya kuat di pengadilan, tapi yang jujur sejak taman kanak-kanak.
Biografi Penulis:
Nama: Afrijal, M.Pd
Tempat dan Tanggal Lahir: Sukajadi (OKU Timur) 01 Februari 1992
Pendidikan: Magister Pendidikan Dasar Universitas Negeri Lampung
Pekerjaan: Dosen STKIP Muhammadiyah OKU Timur














