KUALA LUMPUR, BeritaPedia.news — Pekan ketiga menandai berakhirnya rangkaian Kuliah Kerja Nyata Kemitraan Internasional (KKN-KI) di Sanggar Bimbingan asuhan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Kuala Lumpur, Malaysia, pada Minggu, 19 Oktober 2026.
Bagi mahasiswa, pekan ketiga ini terasa istimewa. Ruang kelas yang dulu asing kini terasa akrab, dan wajah-wajah yang semula baru dikenal telah menjadi teman belajar sehari-hari.
Rutinitas sanggar tetap berjalan normal. Peserta didik datang pukul 07.30, pembelajaran dimulai pukul 08.00, makan bersama saat istirahat pukul 09.30, lalu kembali belajar pukul 11.00 hingga 12.30. Jadwal pembelajaran yakni Senin IPA dan Bahasa Indonesia, Selasa Matematika dan IPS, Rabu PPKn dan Bahasa Inggris, Kamis Matematika dan SPBP, serta Jumat Pendidikan Agama.
Pada hari Jumat, mahasiswa ikut mendampingi anak-anak mengaji dalam pembelajaran Pendidikan Agama. Dari hari ke hari, mahasiswa tidak lagi sekadar tamu yang mengamati, tetapi telah menjadi bagian dari keseharian di kelas.
Satu hal yang menyentuh adalah kebiasaan mandiri peserta didik yang terus terjaga. Mereka menata meja dan kursi tanpa diminta, menjalankan piket sesuai giliran, dan merapikan kembali ruangan sebelum pulang. Kebiasaan sederhana tersebut mencerminkan rasa tanggung jawab dan kepedulian terhadap lingkungan belajar.
Mahasiswi KKN-KI, mengungkapkan rasa haru di penghujung kegiatan. Menurutnya, tiga minggu tersebut memberikan pelajaran hidup yang tidak didapatkan di ruang kuliah.
“Tiga minggu ini penuh makna. Jika minggu pertama adalah masa saling mengenal, minggu kedua masa mempererat kedekatan, maka minggu ketiga ini adalah masa menikmati kebersamaan. Anak-anak di sini mengajarkan kami tentang arti ketulusan, kesabaran, dan kehadiran yang konsisten untuk menumbuhkan kepercayaan,” ujarnya.
Pada pekan terakhir ini, program kerja budaya yang dilaksanakan melengkapi dua pekan sebelumnya. Setelah sebelumnya mengenalkan kolase batik dan wayang kertas, pada pekan ketiga peserta didik diajak mencoba Tari Gending Sriwijaya, tarian khas Palembang, Sumatera Selatan.
Program ini dipilih karena anak-anak sanggar tumbuh jauh dari tanah air, sehingga gambaran mereka tentang Indonesia sebagian besar datang dari cerita dan media sosial. Melalui tarian, budaya Indonesia dapat dirasakan langsung melalui gerak, irama, dan busana.
Tari Gending Sriwijaya sendiri dikenal sebagai tarian penyambutan bagi tamu yang dihormati. Gerakannya yang lembut dan serempak melambangkan keramahan serta kesantunan. Anak-anak diperkenalkan pada makna tarian dan busana khasnya, seperti kain songket, selendang, dan hiasan kepala, kemudian mempelajari gerakan dasar mulai dari ayunan tangan hingga langkah kaki yang teratur.
Meski awalnya masih ragu, semangat mereka tumbuh seiring latihan dan senyum pun mengembang di sela gerakan.
“Kami sengaja memilih Tari Gending Sriwijaya agar anak-anak merasakan langsung keanggunan budaya Sumatera Selatan. Awalnya mereka malu-malu, tapi lama-lama mereka sangat antusias. Kami berharap, rasa ingin tahu dan kecintaan mereka terhadap budaya Indonesia terus tumbuh, ke mana pun mereka melangkah nanti,” tutupnya.
Rangkaian KKN-KI di Sanggar Bimbingan KBRI Kuala Lumpur pun resmi berakhir, namun kesan dan pembelajaran yang ditinggalkan menjadi bekal berharga bagi mahasiswa dan peserta didik untuk terus menjaga kecintaan terhadap Indonesia. (Mega)













