BeritaPedia.news, Jakarta — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mengalami tekanan signifikan. Hingga perdagangan pertengahan Mei 2026, mata uang Garuda dilaporkan sempat menembus level Rp17.600 per dolar AS, menjadikannya salah satu titik pelemahan terdalam dalam beberapa waktu terakhir. (Sumber: Liputan6.com)
Berdasarkan sejumlah laporan pasar keuangan pada Jumat (15/5/2026), rupiah sempat bergerak di kisaran Rp17.610 hingga Rp17.614 per dolar AS sebelum akhirnya mengalami sedikit penguatan di akhir perdagangan. (Sumber: Emiten News)
Pelemahan rupiah disebut dipengaruhi berbagai faktor eksternal maupun domestik. Penguatan dolar AS secara global, ketegangan geopolitik di Timur Tengah, serta tingginya suku bunga Amerika Serikat menjadi faktor utama yang menekan mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia. (Sumber: Liputan6.com)
Analis pasar uang sekaligus Presiden Direktur PT Doo Financial Futures, Ariston Tjendra, menyebut penguatan dolar AS masih didorong oleh kondisi ekonomi Amerika Serikat yang relatif kuat.
“Data ekonomi AS yang masih positif membuat peluang penurunan suku bunga The Fed semakin kecil. Hal itu mendorong dolar AS terus menguat dan memberi tekanan terhadap rupiah,” ujarnya. (Sumber: Liputan6.com)
Selain faktor global, pelaku pasar juga mulai menyoroti kondisi fiskal dalam negeri serta meningkatnya kebutuhan dolar AS untuk aktivitas impor dan pembayaran luar negeri. Situasi tersebut membuat permintaan dolar meningkat sehingga nilai tukar rupiah semakin tertekan.
Kondisi pelemahan rupiah turut memicu kekhawatiran di kalangan pelaku usaha. Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menyebut anjloknya rupiah dapat berdampak pada meningkatnya biaya produksi, terutama bagi industri yang masih bergantung pada bahan baku impor.
Sementara itu, Bank Indonesia dikabarkan terus melakukan langkah stabilisasi guna menjaga keseimbangan pasar keuangan nasional. Intervensi pasar dinilai penting untuk meredam volatilitas nilai tukar agar tidak berdampak lebih luas terhadap inflasi dan daya beli masyarakat.
Pengamat ekonomi memperkirakan pergerakan rupiah masih akan berada dalam tekanan apabila situasi geopolitik global belum mereda dan dolar AS tetap berada dalam tren penguatan. Bahkan, sejumlah analis memproyeksikan rupiah masih berpotensi bergerak di kisaran Rp17.500 hingga Rp18.000 per dolar AS dalam waktu dekat. (*)














