Example 728x250
Berita

Kain Bidak Galah Napuh Komering Kembali Bersinar di Festival Kreatif Sriwijaya, dr. Sheila Noberta: Saatnya Wastra Lokal Mendunia!

287
×

Kain Bidak Galah Napuh Komering Kembali Bersinar di Festival Kreatif Sriwijaya, dr. Sheila Noberta: Saatnya Wastra Lokal Mendunia!

Share this article

BeritaPedia.news, Palembang — Sentuhan budaya dan kreativitas lokal kembali menggema di ajang Festival Kreatif Sriwijaya (FKS) dan Launching Wastra Sumsel yang digelar di Jakabaring Sport City, Palembang pada Kamis (9/10/2025). Acara bergengsi ini menjadi wadah bagi para perajin dan pelaku industri kreatif untuk menampilkan warisan budaya khas daerah, termasuk kain tradisional dari berbagai kabupaten di Sumatera Selatan.

Ketua Dekranasda Kabupaten OKU Timur, dr. Sheila Noberta, Sp.A., M.Kes, turut hadir bersama jajaran pejabat daerah dalam kegiatan yang dibuka langsung oleh Gubernur Sumatera Selatan, Dr. H. Herman Deru, S.H., M.M.. Turut mendampingi dr. Sheila antara lain Asisten II Setda OKU Timur Rayenaidi, S.H., M.H., Plt. Kepala Disperindag Moch. Ucup Sobarudin, S.E., M.Si., serta Kepala Diskominfo Hj. Sri Suhartati, S.E., M.M.

Dengan mengusung tema “Empowering Creativity, Celebrating Innovation”, festival ini menghadirkan semangat kolaborasi untuk menguatkan peran industri kreatif daerah dalam melestarikan dan memajukan warisan budaya, salah satunya melalui peluncuran Wastra Warisan Sumatera Selatan.

Warisan yang Kembali Hidup

Dalam sambutannya, Gubernur Herman Deru menegaskan pentingnya menjaga dan mengembangkan kerajinan tradisional khas daerah.

“Saya bangga, Sumatera Selatan memiliki begitu banyak wastra yang menjadi identitas daerah. Jangan biarkan karya para perajin ini berhenti di masa lalu, tapi harus terus berinovasi dan bisa bersaing di pasar global,” ujar Herman Deru dengan semangat.

Sementara itu, Ketua Dekranasda Provinsi Sumsel Hj. Feby Herman Deru mengingatkan pentingnya merawat warisan budaya agar tidak punah dan tetap memiliki nilai ekonomi tinggi.

“Wastra adalah kekayaan intelektual bangsa. Jika tidak dijaga, bisa saja lenyap ditelan zaman. Hari ini, kita kembalikan wastra lama ke daerah asalnya agar bisa dikembangkan lagi dan menjadi kebanggaan daerah,” tegas Feby Herman Deru.

Kain Bidak Galah Napuh Komering dari OKU Timur Kembali Diperkenalkan

Salah satu kain tradisional yang kembali diperkenalkan dalam ajang ini adalah Kain Bidak Galah Napuh Komering, warisan khas dari Kabupaten OKU Timur. Kain ini menjadi bagian dari enam wastra warisan yang diluncurkan secara resmi oleh Dekranasda Sumsel.

dr. Sheila Noberta menyampaikan apresiasi dan dukungannya terhadap langkah Dekranasda Sumsel dalam menghidupkan kembali warisan tekstil daerah.

“Kain Bidak Galah Napuh Komering adalah identitas budaya yang mencerminkan keindahan dan kearifan lokal masyarakat Komering. Dengan dukungan Dekranasda Sumsel, kami ingin agar kain ini tidak hanya dikenal di Sumsel, tetapi juga bisa menembus pasar nasional hingga internasional,” tutur dr. Sheila.

Ia juga menambahkan bahwa pelestarian kain tradisional perlu dibarengi dengan inovasi desain agar tetap diminati oleh generasi muda. “Kita ingin wastra lama tidak ditinggalkan. Dengan sentuhan modern, kain tradisional bisa tampil elegan dan bernilai jual tinggi,” imbuhnya.

Deretan Wastra Warisan Sumatera Selatan yang Dilaunching

Inilah deretan Wastra yang dilaunching, yaitu Kain Bidak Galah Napuh Komering – Kabupaten OKU Timur, Kain Perelung Pasemah – Kota Pagaralam, Kain Perelung – Kabupaten Lahat, Kain Bidak Cukit – Kabupaten OKI, Kain Prado – Kota Palembang, Kain Sungkit Ughan – Kabupaten OKU

Menjaga Tradisi, Mendorong Ekonomi

Festival Kreatif Sriwijaya menjadi bukti nyata komitmen pemerintah daerah dalam mengangkat kembali wastra lokal sebagai bagian dari ekonomi kreatif yang berdaya saing tinggi.

“Wastra bukan sekadar kain, tetapi cerita tentang identitas, sejarah, dan kebanggaan kita,” ujar dr. Sheila menutup wawancaranya dengan senyum bangga.

Dengan semangat kolaborasi dan inovasi, kain-kain tradisional seperti Bidak Galah Napuh Komering diharapkan dapat terus hidup di tengah masyarakat modern, menjadi simbol cinta budaya, sekaligus pendorong ekonomi kreatif di Bumi Sebiduk Sehaluan. (Ril/Gie)

Iklan beritapedia.news 728x250

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Verified by MonsterInsights