BeritaPedia.news — Organisasi sebesar Persaudaraan Setia Hati Terate atau PSHT bukan sekadar wadah organisasi biasa bagi mendiang Kang Mas Adi Prayitno.
Baginya, PSHT adalah napas, langkah kaki, dan detak jantung tempat beliau berbakti sepenuhnya untuk organisasi pencak silat ini selama hampir enam dekade.
Pada hari Kamis, 4 Juni 2026, sang pendekar luhur itu telah menyelesaikan pengabdian panjangnya di dunia persilatan. Beliau kembali ke pangkuan Sang Khalik, meninggalkan duka yang mendalam.
Namun, dengan kiprah enam dekade di PSHT, beliau juga telah mewarisan keteladanan yang tak akan pernah lekang oleh waktu bagi generasi penerus organisasi ini.
- Setengah Abad Menjaga Marwah
Mundur ke tahun 1967, tatkala PSHT sedang melewati masa penuh ujian dalam perkembangan organisasi, seorang pemuda bernama Adi Prayitno mengikat janji suci sebagai warga Setia Hati Terate yang tetap dan setia.
Sejak malam pengesahan itu, jiwanya telah diabdikan sepenuhnya untuk organisasi. Beliau mendampingi masa-masa sulit, ikut membesarkan, dan konsisten menjaga kemurnian ajaran Setia Hati yang adiluhung.
Sebagai bagian dari Anggota Majlis Luhur, Kang Mas Ayik, sapaan akrabnya adalah sosok pesilat yang gigih. Beliau bukan sekadar guru yang mengajarkan teknik senam dan jurus, melainkan seorang bapak yang menanamkan rasa persaudaraan sejati di dalam dada setiap anggota warga Setia Hati Terate.
Tutur katanya teduh, tatapan matanya penuh wibawa, dan kesederhanaan hidupnya adalah khotbah tanpa kata namun sarat makna yang mengajarkan tentang apa itu arti menjadi “Manusia Setia Hati”.
- Ketulusan yang Mengakar: Mengabdi Tanpa Pamrih, Mendidik Tanpa Lelah
Bagi Kang Mas Adi Prayitno, PSHT bukanlah sekadar organisasi tempat bernaung, melainkan ladang pengabdian suci tempat beliau mengabdikan diri hingga akhir hayatnya.
Dedikasi beliau tercermin dari konsistensi mendampingi adik adik, tetap turun ke segala kegiatan, hingga tempat latihan meski raga tak lagi muda. Bahkan, kesediaan meluangkan waktu di tengah malam demi mengawal prosesi sakral organisasi, seperti pengesahan.
Beliau tidak pernah mencari panggung atau pujian, karena setiap keringat yang menetes, dan wejangan yang keluar lewat lisan beliau murni lahir dari ketulusan hati seorang abdi yang ingin melihat panji Setia Hati terus tegak berkibar melintasi zaman, dari generasi ke generasi.
- Dedikasi Tanpa Batas, Kesetiaan Tanpa Tepi
Bagi generasi muda PSHT, Kang Mas Adi Prayitno adalah jembatan sejarah. Beliau merupakan saksi hidup bagaimana keringat, dan air mata para leluhur ditumpahkan demi tegaknya panji SH Terate.
Ketika usia senja mulai menggerogoti fisiknya, semangat beliau tidak pernah surut. Beliau tetap hadir di setiap kegiatan, memberikan petuah, dan memastikan bahwa pencak silat di PSHT tidak kehilangan jati dirinya.
Beliau meyakini bahwa menjadi warga PSHT bukan untuk kesombongan, melainkan untuk menanamkan kesederhanaan yang kini mulai pudar dalam jiwa. Dan komitmen itu beliau pegang teguh hingga hembusan napas terakhirnya.
- Selamat Jalan, Majelis Luhur Kami
Kini, seragam sakral hitam, dan kain mori putih milik Kang Mas Adi mungkin tersimpan rapi. Namun, semangat ajaran yang telah beliau sulut di jutaan hati warga PSHT akan terus menyala.
Selamat jalan, Kang Mas Adi Prayitno. Terima kasih atas setiap peluh yang menetes, setiap ilmu yang diajarkan, dan kesetiaan tanpa batas yang telah engkau tunjukkan kepada kami.
Tugasmu di dunia telah usai, dan biarkan kami, adik adikmu, para generasi penerus yang melanjutkan perjuangan menjaga marwah organisasi ini.
Semoga Tuhan yang Maha Esa mengampuni segala kekhilafan, menerima seluruh amal ibadah serta dedikasi luhur, dan menempatkan beliau di tempat terbaik di sisi-Nya. Amin.
“Selama matahari masih terbit dari timur, dan bumi masih dihuni oleh manusia, selama itu pula Setia Hati Terate akan tetap jaya, kekal, abadi selama-lamanya.”


